Home > PTK > PENELITIAN : PENGARUH KOMUNIKASI, PENGELOLAAN KELAS DAN PROSES PEMBELAJARAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA

PENELITIAN : PENGARUH KOMUNIKASI, PENGELOLAAN KELAS DAN PROSES PEMBELAJARAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA

IN ENGLISH VERSION CLIK HERE

PENGARUH KOMUNIKASI, PENGELOLAAN KELAS DAN PROSES PEMBELAJARAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA

ABSTRAK

Oleh Hadi Setyo Nugroho

Penelitian ini berjudul “ Pengaruh Komunikasi, Pengelolaan Kelas dan Proses Pembelajaran Terhadap Prestasi Belajar Matematika, Studi Kasus Pada Siswa Kelas VII Semester 2 Tahun Pelajaran 2008 / 2009 SMP Negeri 2 Selomerto”.
Tujuan penelitian ini adalah : (1) Mengetahui pengaruh komunikasi, pengelolan kelas dan proses pembelajaran secara parsial dan bersama-sama terhadap prestasi belajar matematika, dan (2) Mengetahui variabel yang memberikan pengaruh paling berarti terhadap prestasi belajar matematika, diantara variabel proses pembelajaran, komunikasi dan pengelolaan kelas.
Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 2 Selomerto, pada bulan Mei 2009 hingga Juni 2009, dengan metode penelitian deskriptif analisis yang bersifat korelasional. Sedangkan pengambilan data dengan menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner.

Berdasarkan hasil analisis statistik diperoleh kesimpulan : (1) Komunikasi, pengelolaan kelas dan proses pembelajaran, secara parsial dan bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar matematika, dan (2) Proses pembelajaran memberikan pengaruh paling berarti terhadap prestasi belajar matematika.
Berdasarkan kesimpulan tersebut, disarankan : guru-guru di SMP Negeri 2 Selomerto diharapkan meningkatkan kemampuan proses pembelajaran, komunikasi dan pengelolaan kelas dengan penekanan pada variabel proses pembelajaran, karena terbukti ketiga variabel tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar mata pelajaran matematika SMP Negeri 2 Selomerto.

Kata Kunci : Komunikasi, Pengelolaan Kelas dan Proses Pembelajaran

PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Tujuan Pendidikan Nasional berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa : Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Tujuan pendidikan nasional tersebut dituangkan dan dijabarkan dalam kurikulum. Sedangkan kurikulum sebagai sesuatu yang direncanakan untuk dijadikan pegangan dalam proses pendidikan, selalu dinamis dan senantiasa dipengaruhi oleh perubahan-perubahan dalam faktor-faktor yang mendasarinya. Perubahan dalam masyarakat, eksplorasi ilmu pegetahuan dan lain-lain mengharuskan adanya perubahan kurikulum. Perubahan kurikulum, yang sering berati turut mengubah manusia yaitu guru, pembina pendidikan dan mereka-mereka yang mengasuh pendidikan, dimaksudkan untuk mencapai perbaikan.
Berbagai usaha perubahan kurikulum yang telah dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional belum membuahkan hasil yang diharapkan, yaitu meningkatnya prestasi siswa terutama pada mata pelajaran matematika. Hal ini dapat dilihat dari kondisi prestasi belajar matematika di SMP Negeri 2 Selomerto pada tahun pelajaran 2008/2009 semester pertama rata-ratanya 58,6 (masih di bawah nilai rata-rata mata pelajaran IPA yaitu 66,4).
Selain karena faktor siswa, rendahnya nilai mata pelajaran matematika disebabkan pula oleh beberapa faktor eksternal, seperti kemampuan guru mengajar masih rendah dan sistem pelatihan guru yang ada selama ini belum berhasil meningkatkan kinerja guru untuk memperbaiki kegiatan belajar mengajar yang mampu meningkatkan prestasi belajar siswa (Subijanto, 2005). Komunikasi antara guru dengan siswa di SMP Negeri 2 Selomerto kelihatan ada jarak yang memisahkan antara guru dan siswa, hal ini dapat dilihat dari prosentase siswa yang mau bertanya saat kegiatan belajar mengajar masih kecil, khususnya pada pelajaran matematika. Selain itu penggunaan model-model pembelajaran di SMP Negeri 2 Selomerto belum dilaksanakan sebagaimana mestinya, biasanya guru menerapkan suatu model pembelajaran ataupun menggunakan alat peraga hanya pada saat supervisi oleh kepala sekolah. Guru merupakan sosok yang keberadaannya tidak dapat digantikan oleh media atau fasilitas pembelajaran apapun. Kehadiran guru masih tetap diperlukan, kehadiran guru sebagai sosok yang berdiri di depan kelas keberadaannya sampai kapanpun tidak dapat digantikan oleh media pembelajaran secanggih apapun. Guru harus tetap melaksanakan pembelajaran secara langsung di depan siswa. Oleh karena itu apapun alasannya guru harus mengajar langsung di depan siswa agar tujuan pembelajaran yang ditetapkan dapat tercapai. Proses pembelajaran yang optimal diharapkan dapat memberikan pelayanan minimal yang diberikan oleh guru kepada siswa yang akan berimplementasi pada prestasi belajar siswa.
Seiring dengan perkembangan jaman, yang berdampak terhadap perubahan kurikulum pembelajaran, kualitas pembelajaran perlu selalu ditingkatkan. Keadaan tersebut dapat dimulai dengan peningkatan kompetensi para guru, baik dalam menyampaikan materi, menggunakan metode dan teknik mengajar yang tepat, menggunakan media pembelajaran maupun kebutuhan peserta didik. Guru yang profesional pada hakekatnya adalah mampu menyampaikan materi pembelajaran secara tepat sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik. Namun demikian untuk mencapai ke arah tersebut perlu berbagai latihan, penguasaan dan wawasan dalam pembelajaran, termasuk salah satunya menggunakan model dan metode pembelajaran yang tepat. Dalam pembelajaran matematika, guru tidak cukup terfokus hanya pada satu model dan metode tertentu saja. Guru perlu mencoba menerapkan berbagai model dan metode yang sesuai dengan tuntutan materi pembelajaran, termasuk dalam penerapan model pembelajaran kooperatif dengan metode belajar kelompok. Pemilihan model dan metode yang tepat tersebut akan dapat meningkatkan pencapaian hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan.
Pada penelitian ini ingin mengungkap permasalahan dengan membatasi pada pengaruh proses pembelajaran, komunikasi dan pengelolaan kelas terhadap prestasi belajar siswa pada matematika. Motivasi penelitian ini adalah dapat memberikan sumbangan berupa alternatif jalan keluar penyelesaian permasalahan atau minimal mengurangi adanya permasalahan tersebut.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, maka rumusan masalahnya adalah :
1. Apakah variabel komunikasi, pengelolaan kelas dan proses pembelajaran mempunyai pengaruh yang berarti baik secara parsial maupun secara bersama-sama terhadap prestasi belajar matematika ?
2. Variabel manakah yang paling berpengaruh terhadap prestasi belajar mata pelajaran matematika, diantara variabel komunikasi, pengelolaan kelas dan proses pembelajaran?

Tujuan dan Manfaat Penelitian
Yang menjadi tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengaruh antara variabel-variabel komunikasi, pengelolaan kelas, dan proses pembelajaran baik secara parsial maupun bersama-sama terhadap prestasi belajar matematika.
2. Untuk mengetahui variabel manakah yang paling berpengaruh terhadap prestasi belajar mata pelajaran matematika, diantara variabel komunikasi, pengelolaan kelas dan proses pembelajaran . Manfaat Penelitian
Sedangkan manfaat penelitian ini adalah :
1. Dengan pengaruh antara komunikasi, pengelolaan kelas dan proses pembelajaran dengan prestasi belajar mata pelajaran matematika, maka pengambilan keputusan tentang peningkatan prestasi belajar matematika dapat dilaksanakan.
2. Sebagai referensi bagi penelitian, terutama yang ada hubungannya dengan penelitian ini, dan pengembangan manajemen sumber daya manusia di masa yang akan datang.
3. Sebagai bahan pertimbangan bagi Kepala Sekolah dalam rangka peningkatan prestasi belajar mata pelajaran matematika di waktu yang akan datang.
TELAAH PUSTAKA

Landasan Teoritis
1. Prestasi Belajar Siswa
Para ahli berpendapat tentang belajar, diantaranya Hogard dan Bower dalam Rowakhidah (2004 : 4) mengatakan bahwa belajar adalah berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan-perubahan tingkah laku ini tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respon pembawaan seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat dan sebagainya). Sedangkan menurut T. Raka Joni dalam Rowakhidah (2004), dikatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku, sebagai hasil pengalaman kecuali perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh proses menjadi matangnya seseorang atau perubahan yang intruktif atau yang bersifat temporer.
Proses belajar yang berlangsung di sekolah berkaitan erat dengan prestasi kerja yang akan dicapai siswa, seorang siswa yang berhasil dalam belajarnya akan dapat terlihat pada prestasinya di sekolah. Adapun pengertian dari prestasi belajar yang dinyatakan dari Depdikbud (1984 : 20) adalah sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pembelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes.
Dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan kemampuan yang nyata dari individu yang diperoleh dari kegiatan proses belajar mengajar dengan kriteria proses penilitian tertentu dan dalam kurun waktu (triwulan, catur wulan, semester atau tahun).
Beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa di sekolah antara lain dijelaskan oleh Tim Pengembangan MKDK (1990 : 149) yaitu :
a. Faktor internal yakni faktor yang timbul dari dalam anak itu sendiri seperti kondisi fisiologis yang terdiri dari kondisi fisiologis umum, kondisi panca indra dan kondisi psikologis yang terdiri dari kecerdasan (IQ), bakat minat motivasi, emosi, kemampuan kognitif.
b. Faktor eksternal yaitu faktor yang datang dari luar dari anak seperti lingkungan yang terdiri dari lingkungan alami, lingkungan sosial, dan instrumen yang terdiri dari kurikulum, program, sarana dan fasilitas dan tenaga pengajar / guru.
Sedangkan Depdikbud (1984 : 23) mengemukakan bahwa hasil atau prestasi itu bukanlah produksi, bakat atau intelegensia melainkan pencaran dari pendidikan dan latihan sebelumnya. Bakat atau intelegensia hanya merupakan salah satu variabel saja yang dapat memperbesar dan juga memperkecil hasil aksi prestasi itu. Dengan kata lain, hasil atau prestasi belajar seseorang adalah pengalaman belajar yang ditunjang oleh bakat dan intelegensia.
Dari beberapa pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa dapat berasal dari dalam diri siswa juga berasal dari luar siswa. Oleh sebab itu keseluruhan dari faktor-faktor tersebut saling mempengaruhi dalam perkembangan prestasi belajar siswa di sekolah, seperti anak hidup dalam sosial tertentu. Karena itu anak bisa dipengaruhi oleh orang lain dan bisa dididik. Anak tidak mungkin bisa berkembang dengan sendirinya tanpa bantuan dari lingkungan sosialnya (orang tua, lembaga pendidikan dan lain-lain). Oleh karena itu segala sesuatu ada dan melekat pada diri anak, mempunyai kaitan dengan lingkungan sosialnya.
Banyak fakta mengungkapkan bahwa prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika masih sangat rendah. Hal yang tidak bisa dipungkiri adalah opini bahwa matematika sulit, membosankan, tidak menarik terus terdengar di mulut ke mulut. Hasilnya, sampai sekarang pelajaran matematika masih menjadi momok yang menakutkan bagi kebanyakan siswa jika dibandingkan dengan sedikitnya jumlah siswa yang dapat menikmati keasyikan belajar matematika. Kenyataan ini berpengaruh terhadap prestasi siswa pada mata pelajaran matematika.
Prestasi belajar siswa diperoleh dari proses penilaian yang merupakan bagian integral dari pengajaran. Penilaian ini dilakukan oleh guru sebagai sarana untuk menjajagi sejauh mana pengetahuan tentang hal-hal yang telah dipelajari telah terbentuk dalam otak siswa. Untuk dapat mengetahui pemahaman siswa dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :
1. Asesmen (penjajagan) dilakukan dalam berbagai teknik, misalnya tes tertulis, pertanyaan lisan, mendengarkan, pengamatan kerja praktek, pemeriksaan karya tulis siswa.
2. Asesmen hasil mencakup semua tahapan pengetahuan yaitu pembentukan konsep dan prinsip, kelancaran melakukan operasi / pengerjaan (skill), keterampilan menerapkan konsep dalam konteks dan kreativitas memecahkan masalah dan investigasi.
3. Asesmen harus terjadi sepanjang pembelajaran. Ketika guru menjelaskan fakta / konsep, guru harus menyelingi dengan pertanyaan-pertanyaan. (Soleh, 1998 : 26).
Sedangkan penilaian prestasi belajar matematika menurut Maier (1995) ialah pernyataan tentang pengetahuan dan kemampuan para pelajar dalam rangka pembelajaran matematika. Penilaian ini terdiri dari penilaian pekerjaan sekolah dan pekerjaan ulangan serta ujian secara tertulis, penilaian dan tes prestasi sekolah atau penetapan prestasi secara lisan.
Pada penelitian ini, prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika diperoleh melalui tes tertulis, dimana soal tes dibuat oleh peneliti dan mencakup beberapa materi pokok pada semester 2 yaitu materi himpunan dan materi garis dan sudut.
2. Kompetensi
Menurut John Stevenson dalam Subijanto (2005) pada artikel
“Competency Based Training in Australia an Analisis of Assumptions” mengutip dari The National Training Board menyatakan bahwa “Competence comprises the specification of knowledge and skills and the application of that knowledge and skill withim an ocupation or industry level to the standard of performance required in employment”.

Pernyataan tersebut mengandung makna bahwa kompetensi terdiri dari pengetahuan dan keterampilan yang secara spisifik standar dan diterapkan dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan persyaratan yang ditemukan.
Menurut Acuan Penyusunan Standar Kompetensi (MPKN, 1998) mendefinisikan kompetensi secara umum sebagai kemampuan untuk mengerjakan suatu tugas dan didukung oleh sikap kerja. Dengan kata lain, untuk dapat melaksanakan tugas dengan baik dan benar, maka seseorang guru dituntut memiliki :
a. Pengetahuan tentang tugas yang dilakukan / diembannya serta bagaimana mengerjakan tugas itu.
b. Keterampilan yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas.
c. Sikap kerja yang dibutuhkan untuk dapat mengerjakan tugas dengan baik dan benar.
d. Daya fisik yang cukup.

Hipotesis
Berdasarkan pengertian di atas dan sesuai dengan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan landasan teori, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Diduga bahwa variabel-variabel komunikasi, pengelolaan kelas dan proses pembelajaran secara parsial maupun bersama-sama berpengaruh positif terhadap prestasi belajar matematika.
2. Diduga bahwa variabel proses pembelajaran mempunyai pengaruh yang paling berarti dibanding kedua faktor lainnya terhadap pertasi belajar matematika.

METODOLOGI PENELITIAN
Metode Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Selomerto Kabupaten Wonosobo Propinsi Jawa Tengah.
2. Sasaran Penelitian
Sasaran penelitian adalah siswa VII SMP Negeri 2 Selomerto pada tahun pelajaran 2008 / 2009.
3. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian survei, yaitu informasi yang dikumpulkan dari responden dengan menggunakan kuesioner, dan umumnya pengertian survei dibatasi pada pengertian survei sampel dimana informasi dikumpulkan dari sebagian populasi untuk mewakili seluruh populasi (Masri Singarimbun, 1995 : 8 ).
4. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan 2 (dua bulan, mulai bulan April – Mei 2009).
5. Teknik Pengumpulan Data
Data yang diambil dalam penelitian ini berupa data primer, yaitu data tentang tiga varibel bebas dalam penelitian ini, yaitu variabel proses pembelajaran, komunikasi dan pengelolaan kelas, yang diperoleh dari responden melalui metode kuesioner.

Metode Sampling
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 1996). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 2 Selomerto pada tahun pelajaran 2008 / 2009 yang berjumlah 276 anak yang terkelompok menjadi 7 kelas, yaitu kelas VII A sebanyak 39 anak, VII B sebanyak 40 anak, VII C sebanyak 38 anak, VII D sebanyak 38 anak VII E sebanyak 40 anak, VII F sebanyak 40 anak dan VII G sebanyak 41 anak.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian individu dari seluruh populasi yang diselidiki (Sutrisno Hadi, 1986). Atas dasar adanya faktor keterbatasan waktu, tenaga dan biaya, sampel diambil dengan teknik cluster random sampling. Dalam penelitian ini sampel diambil dari populasi yaitu 3 kelas, diambil secara acak yaitu kelas A, C dan D yang berjumlah 120 siswa. Champion (1981) mengatakan bahwa sebagian besar uji statistik selalu menyertakan rekomendasi ukuran sampel. Dengan kata lain, uji-uji statistik yang ada akan sangat efektif jika diterapkan pada sampel yang jumlahnya 30 s/d 60 atau dari 120 s/d 250.

Metode Analisis
1. Pengukuran Variabel
Pengukuran variabel komunikasi, pengelolaan kelas dan proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan Skala Ordinal yang diambil dari model skala Likert. Skala ini digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan prestasi seseorang atau sekelompok orang tentang gejala sosial (Riduan dalam Sutrisno, 2005).
Kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut :
a. Angket positif, yaitu jawaban sangat sering = 5, sering = 4, kadang-kadang = 3, pernah = 4, dan tidak pernah = 1
b. Angket negatif, yaitu jawaban sangat sering = 1, sering = 2, kadang-kadang = 3, pernah = 4, dan tidak pernah = 5
Skor diperoleh dari hasil jawaban dengan proses Checklist, yaitu suatu daftar yang berisi subjek dan aspek-aspek yang diamati (Riduan dalam Sutrisno, 2005). Setiap pertanyaan dijumlahkan untuk mendapatkan skor gabungan. Nalai total untuk setiap jawaban dihitung untuk setiap responden.
Sedangkan untuk variabel prestasi belajar matematika diukur dengan mengeteskan beberapa soal matematika kepada responden dengan materi himpunan dan garis-garis sejajar.
2. Pengujian Istrumen Penelitian
a. Uji validitas
b. Uji Reliabilitas
c. Peningkatan data ordinal ke interval

Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Variabel komunikasi (X1), pengelolaan kelas (X2) dan proses pembelajaran (X3) baik secara parsial maupun bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar metematika (Y). Kesimpulan ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan prestasi belajar matematika dapat dilakukan dengan peningkatan keterampilan guru dalam, komunikasi, pengelolaan kelas dan proses pembelajaran.
2. Varibel proses pembelajaran (X3) memberikan pengaruh paling berarti terhadap prestasi belajar matematika (Y). Oleh karena itu prestasi belajar metematika baik, maka perlu peningkatan keterampilan guru, terutama pada faktor keterampilan proses pembelajaran, disamping kemampuan dalam komunikasi dan pengelolaan kelas.

Saran
Guru-guru di SMP Negeri 2 Selomerto diharapkan meningkatkan kemampuan dalam proses pembelajaran, komunikasi dan pengelolaan kelas dengan penekanan pada variabel proses pembelajaran, kerena terbukti ketiga variabel tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar matematika. Sehingga untuk meningkatkan prestasi belajar matematika, perlu ditekankan pada peningkatan keterampilan guru dalam komunikasi, pengelolaan kelas dan terutama pada proses pembelajaran.
Kegiatan untuk meningkatkan keterampilan guru dapat dilakukan dengan cara mengikutsertakan guru dalam pelatihan-pelatihan guru matematika baik yang diselenggarakan di tingkat sekolah, MGMP Kabupaten maupun di tingkat regional atau nasional.
Peningkatan prestasi belajar matematika yang dipengaruhi oleh proses pembelajaran dapat ditempuh dengan menambah jam pelajaran sehingga keterampilan mengajarnya semakin baik dan mengikuti pelatihan-pelatihan guru matematika yang diselenggarakan oleh dinas-dinas pendidikan terkait. Sedangkan komunikasi yang dilakukan guru matematika dalam proses pembelajaran perlu dibenahi dengan upaya melalui pendekatan personal terhadap para siswa dan mengubah penampilannya menjadi guru yang ramah dan supel supaya disukai siswa-siswanya sehingga siswa menjadi menyenangi matematika. Keterampilan mengelola kelas perlu ditingkatkan dengan cara mendisiplinkan siswa sesuai peraturan sekolah yang berlaku dan menerapkan sistem reward and punishment pada siswanya di kelas, ketika proses pembelajaran sedang berlangsung.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Djauzak. 1996. Pedoman Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar. Depdiknas, Jakarata.

Amin, Moch, dkk. 1979. Humanistic Education. Ditjen Dikti. PNKK, Jakarta.

Alghifari, 1997.Analisis Regresi Teori, Kasus, dan Solusi. BPFE, Yogyakarta.

Arikunto, Suharsimi, 1996. Manajemen Penelitian. Rineka Cipta, Jakarta.

……………………………, 1996. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta Jakarta.

Depdikbud. 1984. Dasar-Dasar Pengajaran. Depdiknas, Jakarta.

Donald Ace Morgan, John Sneed and Lauwrie Swinney. 2003. Teaching Effectiveness.

Hadi, Sutrisno. 1986. Metodologi Research. Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta.

Maier, Herman. 1998. Kompedium Didaktik Matematika. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.

Nurida, Awita. 2002. Pengaruh Kompetensi, Motivasi dan Sistem Pembelajaran Terhadap Prestasi Belajar Bidang Studi IPA di SLTP Negeri 1 Balikpapan. Thesis MM UNSOED, Purwokerto.

Pusat Pengembangn dan Sistem Pengujian. 1999. The International Association for the Evaluation of Education Achievement. Balitbang Depdiknas, Jakarta.

Rowakhidah. 2004. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Siswa SMP Negeri 3 Cilacap Kabupaten Cilacap. Thesis MM UNSOED, Purwokerto.

Sardiman, A.M. 1992. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar : Pedoman Bagi Guru dan Calon Guru. Rajawali Pers, Jakarta.

Semiawan, Conny, dkk. 1992. Pendekatan Keterampilan Proses. PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.

Shadiq, Fadjar. 2005. Psikologi – Pedagogi Pembelajaran Matematika dan Andragogi. Makalah Diklat Fungsional Matematika Bagi Guru SMP Kabupaten Cilacap.

Soleh, Mohammad. 1998. Pokok-Pokok Pengajaran Matematika di Sekolah. Depdiknas, Jakarta.

Singarimbun, Masri. 1987. Metode Penelitian Survei. LP3ES, Yogyakarta.

Stevenson, John. 1991. Competency Based Training in Australia : an Analisis of Assumption (1993) dalam Jurnal The Nation Training Board, Australia.

Subijanto. 2005. Studi Kemampuan Guru Mengajar Fisika di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Jurnal dalam http://www.depdiknas.go.id.

Sudjana, Nana. 1996. Statistik. LP3ES, Jakarta.

Sungatman. 2001, Analisis Kinerja Guru SLTP Negeri 3 Samarinda Kota Samarinda. Thesis MM UNSOED, Purwokerto.

Supranto. 1997. Statistik Teori dan Aplikasi, Edisi Kelima, Jilid Kedua. Erlangga, Jakarta.

About these ads
Categories: PTK
  1. August 8, 2011 at 3:46 am

    aslm, pak hadisetyo, saya juga sedang melakukan penelitian untuk pembuatan proposal alhamdulillah dapat pencerahan setelah melihat page bapak, kebetulan saya akan melakukan dalam pelajaran geografi, kalu boleh saya, mohon bantuan untuk tambahan referensi lampiran karena saya kekurangan referensi. terimakasih. kalu ada tolong kabari ke email saya, terimakasih banyak pak.

    • hadisetyo
      August 20, 2011 at 2:08 pm

      Makasih mbak dwi…dah berkunjung, lampirannya kalo punya soal matematika, kuesioner komunikasi, pengelolaan dan proses pembelajarn….kuesioner sy susun sesuai kajian teori….ya ntar jika dah siap lampiran akan saya tulis di blog saya yang satunya…hadisetyo.co.cc

  2. April 1, 2012 at 1:41 pm

    mana angketnya

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: